Tantangan Yang Dihadapi Ketika Menjadi Perawat


Literasi Perawat ~ Namun, sekalipun membawa banyak sukacita, para perawat juga harus mengatasi banyak tantangan. Perawat tidak boleh melakukan kekeliruan! Sewaktu memberikan obat, mengambil darah, memasang infus, ataupun sekadar memindahkan pasien, seorang perawat harus sangat berhati-hati. Ia tidak boleh ceroboh​—dan ini khususnya berlaku di negeri-negeri yang masyarakatnya terbiasa mengajukan gugatan hukum.

Lebih parah lagi, kadang-kadang perawat berada dalam posisi yang sangat sulit. Misalnya, perawat merasa bahwa dokter telah meresepkan obat yang salah untuk pasiennya atau telah memberikan perintah yang jika dijalankan akan membahayakan pasien. Apa yang harus dilakukan perawat? Menentang kebijakan sang dokter? Ini menuntut keberanian, kecerdikan, dan diplomasi​—dan hal itu mengandung risiko. Sayangnya, ada dokter yang tidak suka menerima saran dari bawahannya.

Apa komentar para perawat tentang hal ini? Barbara Reineke dari Wisconsin, AS, seorang perawat terdaftar selama 34 tahun, memberi tahu Sedarlah!, ”Perawat harus berani. Ia bertanggung jawab secara hukum untuk setiap pengobatan yang ia berikan atau perawatan yang ia laksanakan dan untuk setiap kerusakan yang diakibatkannya. Ia harus bisa menolak untuk menjalankan suatu perintah dari dokter jika ia merasa bahwa perintah itu berada di luar ruang lingkup pekerjaannya atau jika ia yakin bahwa perintah itu tidak betul. Perawat zaman sekarang berbeda dengan perawat di zaman Florence Nightingale ataupun 50 tahun yang lalu. Sekarang, perawat harus tahu kapan berkata tidak kepada dokter dan kapan bersikukuh agar dokter menemui pasien, meskipun di tengah malam. Dan, jika perawat keliru, ia harus bermuka tembok dalam menghadapi cemoohan sang dokter.”

Masalah lain yang harus dihadapi perawat adalah tindak kekerasan sewaktu sedang bertugas. Sebuah laporan dari Afrika Selatan mengatakan bahwa perawat ”diakui mendapat risiko tinggi dianiaya di tempat kerja. Sebenarnya, perawat lebih berisiko diserang di tempat kerja dibandingkan dengan sipir penjara ataupun polisi, dan 72% perawat masih merasa khawatir kalau-kalau mereka akan diserang”. Situasi serupa juga dilaporkan di Inggris, tempat 97 persen perawat yang menjadi responden sebuah survei baru-baru ini mengenal seorang perawat yang telah diserang secara fisik tahun lalu. Apa penyebab tindak kekerasan ini? Sering kali, masalah ini ditimbulkan oleh pasien yang berada di bawah pengaruh narkoba atau alkohol, maupun yang sedang stres atau sedih.

Perawat juga harus berjuang melawan kehabisan tenaga akibat stres. Salah satu penyebab dari hal ini adalah kurangnya staf. Sewaktu perawat telah berupaya maksimal untuk memberikan perhatian terbaik namun gagal karena begitu banyaknya pekerjaan, maka timbullah stres. Jika ia berupaya mengatasi hal ini dengan mengorbankan waktu istirahatnya atau dengan bekerja lembur, ia malah akan tambah frustrasi.

Di seputar dunia, banyak rumah sakit yang kekurangan staf. ”Kami kekurangan perawat,” kata sebuah laporan di Mundo Sanitario, Madrid. ”Siapa pun yang membutuhkan perawatan kesehatan sangat menyadari pentingnya perawat.” Apa penyebab kurangnya tenaga perawat? Penghematan! Laporan yang sama menyatakan bahwa rumah-rumah sakit di Madrid kekurangan 13.000 perawat profesional!

Penyebab stres lainnya adalah jam kerja yang terlalu panjang dan gaji yang terlalu rendah. The Scotsman menyatakan, ”Lebih dari seperlima perawat dan seperempat asisten perawat di Inggris memiliki pekerjaan sambilan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup, menurut serikat pelayanan masyarakat, Unison.” Tiga dari 4 perawat merasa bahwa gaji mereka di bawah standar. Akibatnya, banyak yang berpikir untuk ganti pekerjaan.

Masih ada sejumlah faktor lain yang turut mengakibatkan stres sang perawat. Berdasarkan komentar-komentar yang dikumpulkan Sedarlah! dari para perawat di seputar dunia, kematian pasien juga dapat mengakibatkan depresi. Magda Souang, perawat berlatar belakang Mesir, bekerja di Brooklyn, New York. Sewaktu ditanya apa yang membuat pekerjaannya sulit, ia menjawab, ”Menyaksikan dalam waktu sepuluh tahun sedikitnya 30 pasien kritis yang telah saya rawat meninggal. Rasanya amat melelahkan lahir-batin.” Tidaklah mengherankan kalau sebuah narasumber mengatakan, ”Membaktikan diri untuk merawat pasien yang akhirnya meninggal dapat sangat meletihkan baik secara fisik maupun emosi.”

http://suaraliterasiperawatindonesia.blogspot.co.id/ "Seorang penulis pemula yang sedang belajar mengasah diri menjadi lebih baik"

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tantangan Yang Dihadapi Ketika Menjadi Perawat"

Post a Comment