Perawat, Cukupkan Mengeluhnya


"Sampai sekarang, ga tahu kenapa Allah menjadikanku perawat. Salah jurusan deh," katanya frontal.

"Orang tua yang pengen aku jadi perawat, benci banget, masa depan suram," desahnya lagi.

Aku menunduk dalam. Memilih bungkam. Diam? Tidak. Aku sedang mengatur jantung yang berkontraksi naik turun.

Andai kau tahu, Teman. Ketika memilih menjadi perawat, aku harus bertengkar dengan kedua orang tua. Saat mengikuti suara hati, saat itu juga menentang suara orang yang paling aku hormati. Dan kami mengakhiri debat hebat itu dengan ultimatum ayah, yang tak akan membiayai hidupku setelah lulus kuliah perawat.

Ahh, andai kau tahu, Teman. Aku cemburu padamu. Yang didukung penuh oleh orang tua dan keluarga. Yang selalu didoakan sebelum berangkat kuliah. Yang selalu dinantikan kepulangannya. Yang selalu ditunggu-tunggu cerita seru dengan pasien.

Selama ini, aku tak pernah seperti itu. Selain kalimat, "Capekkan jadi perawat? Salahnya dulu ga mau dengerin mama!"

Kau beruntung, Teman. Sangat beruntung. Saat orang tua memilihkan jalan terbaik untukmu. Ia sangat ingin engkau menjadi manusia yang lebih baik. Yang bermanfaat untuk sekitar. Yang suatu saat nanti, merawat kedua orang tua di usia senja. Kiranya begitu harapan mereka.

Oh tunggu, restu orang tua adalah restu Sang Kuasa juga. Maka, bagaimana pula kau justru mengutuki dirimu sendiri? Jika Penciptamu saja menginginkan ini sebagai jalan hidupmu. Tidakkah kau bersyukur teman? Bersyukur atas kehidupan yang membawamu ke batas keikhlasan dan kedermawanan. Ya, perawat mengajarkan itu semua.

Sudah 5 tahun merawat pasien di rumah sakit itu. Keluhanmu masih saja seputar masa lalu. Salah jurusan, pilihan orang tua, dan tak sesuai passion.

Heii.. Bukankah kau yang menceramahiku tentang pekerjaan adalah ibadah? Jadi, kenapa kita tidak menjadikan setiap detik usaha adalah selangkah mendekat kepadaNya? Dengan begitu kita tahu, ke mana jalan ini tertuju.

Teman, berbahagialah dengan apa yang telah kita miliki. Mensyukuri yang ada, lalu melakukan upaya terbaik yang kita bisa. Jika bukan kita yang berkeinginan terus jalan, lalu siapa lagi yang mendorong tubuh maju kedepan?

Setelah lulus kuliah, aku memilih bekerja jauh dari orang tua. Tentu saja untuk menghidupi diriku sendiri. Sesuai perjanjian kami. Tapi aku tak ingin menyerah teman. Meski tak ada dukungan. Aku yakin, Allah bersama hambaNya yang percaya pada kehendakNya. Hingga Ia membawa langkahku mendekat dalam dekapanNya.

Cukupkan mengeluhnya. Cukupkan membenci jalan hidup. Cukupkan memaki kenyataan. Berhentilah, sekarang.

Allah merahasiakan masa depan, agar kita bersabar, bersyukur dan berprasangka baik. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Engkau menjadi perawat sekarang, karna Allah percaya engkau mampu. Engkau menjadi perawat sekarang, bukti Allah cinta padamu.

Siapa yang menyangka, aku yang dulunya ditentang dan dimusuhi keluarga. Dikatai perawat bodoh tak berpendidikan oleh CI dan senior di ruangan. Jatuh ribuan kali dalam kegagalan. Alhamdulillah, diundang dengan cuma-cuma ke rumah Allah dan jalan-jalan ke Eropa. Tak mengeluarkan sepeserpun uang, hanya karna menjadi perawat. Doa impossible yang selalu aku ucap berulang-ulang.

Apalagi dengan kamu, yang melangkah beriringan dengan doa orang tua. Semoga rahmatNya selalu melindungimu. Di manapun berada.

Untukmu perawat Indonesia, JAYA SELALU!!

*Violeta
Riyadh, Arab Saudi, 27 April 2016, 09.58 pm

http://suaraliterasiperawatindonesia.blogspot.co.id/ "Seorang penulis pemula yang sedang belajar mengasah diri menjadi lebih baik"

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perawat, Cukupkan Mengeluhnya"

Post a Comment