14 Tahun Aku Tidak Dibayar



"Dedi, bukan namaku yang sebenarnya, asal sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Lulusan SPK, kemudian lanjut ke Akper.

Seperti teman2 lain yang mimpi, aku juga ingin jadi PNS. Dengan harapan  tersebut,  aku bisa memiliki masa depan yang menjanjikan.

Namun ternyata aku salah.  Sudah tahun ke 14 aku jalani, keadaan tetap sama.

Aku hanya dibayar dari jasa pelayanan medis setiap bulannya. Padahal aku harus menghidupi istri dan 2 anak.

Beruntungnya, kami alhamdulillah punya sedikit lahan untuk cocok tanam. Sehingga tidak terlalu kekurangan. Makanya aku nekad harus berubah,  ingin ke luar negeri,  walaupun info yang aku terima sangat telat, karena  kami tinggal di pelosok.

Yang aku heran, jumlah tenaga keperawatan dengan status yang sama seperti aku ada 200 orang di RS yang sama tempatku kerja.

Koq teman-teman mau?

Dari situ aku berkesimpulan, bahwa sebetulnya tidak ada orang yang peduli dengan nasib kita,  kecuali kita mau ubah diri sendiri.

Sebagai senior, himbauanku kepada adik-adik junior, tolong jangan tambah jumlah kami!"

Sumsel, 8 Maret 2018
Seperti yang dikisahkan oleh Dedi kepada Syaifoel Hardy.

http://suaraliterasiperawatindonesia.blogspot.co.id/ "Seorang penulis pemula yang sedang belajar mengasah diri menjadi lebih baik"

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "14 Tahun Aku Tidak Dibayar"

Post a Comment