Jika Aku Menjadi Perawat ZA*


Literasi Perawat ~ Hari berlalu tanpa salam, waktu bergulir menandakan siang dan malam. Setiap langkah dimaknai dalam ikhtiar dan perjuangan, bekerja sebagai perawat adalah pilihan hidup, segala dinamika dan resiko yang ada dilalui demi kelangsungan hidup itu sendiri. Inilah hari-hari yang dilewati sejawat kita ZA, seorang perawat yang diduga melakukan pelecehan seksual pada pasien saat mengabdi di National Hospital Surabaya, Jawa Timur.

Kesadarannya menjadi perawat adalah panggilan jiwa hingga dirinya bisa lulus di Universitas ternama, ilmu dan sumpah profesi adalah pegangan kuat dalam bekerja, keluarga dan handai taulan adalah jendela diri untuk tetap semangat mencari nafkah, namun ketika dirinya ditimpa musibah, tentu rekan kerja se profesi juga harus angkat suara, mengupas masalah, membela bukan sebaliknya tutup mata dan lari dari masalah.

Ada rekan sejawat yang menaggapi masalah dengan melihat luar nya saja, ada yang biasa-biasa saja, ada yang mengutuk dan membela, namun ada juga yang tidak mau angkat suara dan merelakan rekan sejawatnya menjadi bulan bulanan publik dan media masa. Tentu, saya tidak ingin mengupas hal yang demikian, karena rekan sejawat pun punya pandangan yang harus dihargai, latar belakang yang berbeda serta analisa tentang maalah yang berbeda pula. Tapi saya meyakini bahwa sebagian besar rekan perawat mengutuk keras kriminalisasi. “Sedangkan cacing diinjak bergerak apalagi manusia” pribahasa ini sangat melekat dalam masalah ini.

MENJAGA EKSISTENSI

Keberadaan kita sebagai tenaga kesehatan merupakan kemanfaatan besar yang dirasakan banyak orang, label sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan adalah sebuah kebanggaan dan nilai tersendiri, ladang amal ini menjadi rebutan meski sistem dan kenyataan mengharuskan kita berjuang agar diakui eksistensinya sebagai tenaga kesehatan yang sejahtera. Polemik perawat bergaji rendah, honorer yang mengabdi lama serta minimnya lapangan kerja yang digaji tinggi, membuat hari-hari penuh derita, tak salah jika profesi ini lebih banyak amal jariyah nya dibandingkan pendapatan dunia.

Jika saya menjadi perawat ZA, tentu saya mengetahui masalah yang ada dan terus berjuang demi menafkahi keluarga dengan bekerja. Namun apakah mereka-mereka yang diluar mengetahui masalah tersebut? Inilah perlunya objektivitas dalam melihat eksistensi tenaga kesehatan terlebih perawat, kita dituntut bekerja untuk kualitas kerja tapi lupa bagaimana mengajak kita sejahtera. Hanya program penempatan daerah terpencil yang bisa kita terima dari pemerintah bukan diangkat menjadi pengabdi Negara atau “ASN” (Aparatur Sipil Negara).

Namun perawat kita di Indonesia tetap berjuang dan bekerja dalam senyap, suara lantang bahkan tak terdengar nyaring nya, kita lebih suka “nerimo” daripada “madoni”. Ada yang kaya dan sejahtera tapi latar belakangnya bekerja di luar wilayah, ada yang di luar negeri dan lupa balik kembali, ada pula yang mengabdi menjadi akademisi. Adapula yang menjadi praktisi yang mulia dengan membangun sistem sendiri, menyemangati perawat yang ada dengan modal pribadi melalui organisasi pelatihan keperawatan dan mengajarkan banyak hal tentang dunia luar.

MELAWAN KETAKUTAN

Itulah sekelumit kisah yang ada, orang lain meski dengan jendela berbeda akan senantiasa sewaktu-waktu menjebak, menyalahkan kita bahkan menghina kita karena kerja yang tidak baik juga karena pelayanan yang tidak maksimal, tapi diluar itu mereka tidak memahami kodrat kita sebagai manusia biasa yang dituntut tampil berbeda, senyum meski masalah menumpuk di kepala, dilayani dengan prima meski butuh waktu juga mengatur keluarga. Adakah yang pernah bertanya gajimu berapa ? miris jika kita mengetahui realita sebenarnya, tapi tak mengapa, semoga keikhlasan tertanam di lubuk hati rekan sejawat yang bekerja meski minim apresiasi, sulit diakui dan tak menentu eksistensinya.

Jika saya menjadi perawat ZA, maka hal pertama ketika saya dituduh dan dihina adalah meminta maaf meski kemungkinan melawan itu ada, tapi ilmu dan sumpah membuat kita merendah. Meminta maaf bukan berarti kita kalah, tapi lebih menghargai pasien sebagai manusia. Namun jika cerita yang ada dibuat sedemikian rupa untuk menjatuhkan harkat dan martabat maka saya harus melawan, mencari keadilan pada Negara. Ini bukan tentang dirinya semata tapi profesi mulia yang kita jaga harkat dan martabatnya.

Adalah ujian berat jika saya menjadi perawat ZA, terkurung dalam prodeo yang dingin tanpa salah, ditemani malam sepi penuh tanya, tapi dilaluinya dengan kesabaran, sebab profesi ini telah mengajarkan makna sabar dalam hidup dan bekerja. Profesi ini telah mengajarkan nilai hidup mulia, tidak hanya menjaga dan merawat diri tapi juga merawat keluarga dan masyarakat.

Cerita yang ada dari perawat ZA telah membuka mata hati kita untuk melawan ketakutan, bersuara lantang membela kebenaran, menolak penghinaan, membuka mata rantai kriminalisasi lawan. Perlahan namun pasti dugaan ini menuai titik terang, jangan karena satu hal membuat kita lemah dan jangan karena dianggap tidak punya pengaruh lantas kita diamkan saja. Jika saya menjadi perawat ZA, tentu ketakutan ini bukan penghalang, ada makna lain yang bisa disimpulkan dari ujian yang ada.

Penulis: Achir Fahruddin
Saudi Arabia, 12 Februari 2018

http://suaraliterasiperawatindonesia.blogspot.co.id/ "Seorang penulis pemula yang sedang belajar mengasah diri menjadi lebih baik"

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jika Aku Menjadi Perawat ZA*"

Post a Comment